Sabtu, 17 Desember 2011

iseng iseng

tiba-tiba muncul keinginan buat nulis sesuatu yang serius..

selasa kemaren ada seminar di kampus tentang gender, feminisme dan perempuan. walaupun fokus pada TKI(W), entah kenapa pas tadi malem buka form buat daftar beasiswa ada kata-kata "surname" atau "nama keluarga".

aku langsung mikir, seumur hidup, di KTP, di SIM, di Kartu Keluarga, di Akta kelahiran, gak pernah ada tulisan surname atau nama keluarga atau apapun itu. aku bingung seketika. Maaann..apa nama keluargaku??

lalu aku inget, nama keluarga itu biasanya nama dari pihak bapak. jeder. nama bapakku cuma satu kata, dan nggak ada nama bapaknya bapakku..iki piyeee??

Indonesia identik dengan budaya patriarki, dimana wanita harus tunduk dan patuh pada laki-laki. *kalo nggak salah begitu*. budaya ini kelihatan sekali dengan cara pikir kebanyakan orang dulu - bahkan ada yang masih berpikira seperti itu sekarang ini- bahwa wanita itu di bawah laki-laki, nggak perlu sekolah tinggi-tinggi, harusnya di rumah ngerjain urusan rumah tangga..

tapi pada kenyataanya, budaya patriarki menurutku nggak cuma ada di Indonesia. bahkan di negara barat sana budaya ini masih kelihatan dengan adanya norma pemakaian surname atau nama keluarga yang biasanya datang dari pihak laki-laki kalo mereka menikah. secara tidak langsung hal ini menunjukkan posisi wanita ada di bawah laki-laki. nama surname berarti tanda kepemilikan terhadap wanita. *emang kita barang?*.

hal tersebut menandakan bahwa hingga saat ini, meskipun semua meneriakkan kata-kata menjunjung tinggi kesetaraan, pada akhirnya masih ada praktik yang membuat wanita tidak setara dengan laki-laki. kenapa nggak pake nama keluarga dari pihak wanita?

sekedar iseng nulis.

1 komentar:

  1. Kamu mau nama keluarga Bawono po? Bisa diatur.. #eh Wkwkwkwk..

    BalasHapus